Minggu, 11 Maret 2012

Naskah_Drama_Sunan_KaliJaga_Untuk_Siswa_MI

Informasi Halaman :
Author : Alip Hadi Mujiono, Staf Pengajar TIK di SMP NU 02 Dukuhturi Kabupaten Tegal.
Judul Artikel : Naskah_Drama_Sunan_KaliJaga_Untuk_Siswa_MI
URL : http://tahrirmansur84.blogspot.com/2012/03/naskahdramasunankalijagauntuksiswami.html
Bila berniat mencopy-paste artikel ini, mohon sertakan link sumbernya. ...Selamat membaca.!

SUNAN KALIJAGA

EPISODE MASA MUDA
ADEGAN I
Sunan Kalijaga dilahirkan pada tahun 1450, putra dari Tumenggung Wilatika (sang adipati Tuban), nama kecilnya Raden Sahid. Sejak kecil Raden Sahid sudah diperkenalkan kepada agama Islam, ia menjadi anak yang cerdas dan taat beribadah.
Pada masa mudanya, ia melihat kehidupan masyarakat yang menderita diakibatkan musim peceklik yang berkepanjangan, ditambah lagi penarikan pajak kerajaan yang semakin mencekik leher. Namun di sisi,  di Kadipaten tempat Sahid tinggal seakan tak mau memperdulikan mereka. Gelora jiwa Raden Sahid pun meledak. Suatu hari ia menghadap ayahnya (Adipati Tuban).

Raden Sahid      : “Rama Adipati, rakyat tahun ini sudah semakin sengsara karena panen banyak yang gagal. Mengapa mereka masih harus membayar pajak ? Apakah hati nurani Rama tidak merasa kasihan atas penderitaan mereka ?”.
Adipati Wilatika          : (menatap tajam, menghela nafas) “Sahid anakku, saat ini pusat Majapahit sedang membutuhkan dana yang sangat besar. Aku ini hanyalah bawahan Sang Prabu, apalah dayaku menolak tugas yang dibebankan kepadaku! Tidak hanya kadipaten ini, kadipaten-kadipaten lain pun sama.”.
Raden Sahid      : “Tapi, Mengapa harus rakyat yang jadi korban !”
Adipati Wilatika          : (mukanya merah, matanya melotot tajam, tanda sedang marah besar)
Ibu Wilatika       : “anakku, kau masih muda belum mampu untuk memikirkan hal ini. Ayahmu benar, pajak yang dipungut untuk kepentingan Majapahit yang sedang membutuhkan dana besar.”.
Raden Sahid      : (sambil bersungut, merunduk dan mengundurkan diri)


ADEGAN II
Setiap malam Raden Sahid mengumandangkan ayat-ayat suci al-qur’an. Namun, malam ini disaat penjaga tertidur, ia masuk ke gudang untuk mengambil bahan makanan, Kemudian dibagikan kepada rakyat yang sangat membutuhkan. Tanpa ada yang mengetahui. Rakyat kaget senang bercampur girang.

Anak laki-laki  :(menangis)”Ma, saya sangat lapar ! sudah lima hari kita belum makan.”
Ibu                               : “nak, Ibu lagi masak, belum matang, tunggu saja. Sebaiknya kita berdoa saja sama Alloh, mudah mudahan Alloh mengabulkan do’a kita.”
Anak laki-laki  :(mengangkat tangan, berdoa, menangis)
Anak prm        : (bangkit dari tidur) ”ma, mama masak apa sih? Ko nggak mateng-mateng ?
Ibu                   : “sebaiknya kamu tidur lagi sana ! nanti kalau suda matang mama bangunin”.
Anak laki-laki  : (mendekati adiknya yang masih bayi, menangis) “ma, adik ku ma. Ma, adikku”
Ibu                               : (mendekat) “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.
Bapak              : (masuk, membawa bungkusan daging) “Assalamu’alaikum, lihat bapak bawa makanan, ayo kita masak !”
Ibu dan anak   : (serempak) “wa’alaikum salam”
Anak Prm        : (mendekati bapak, membawa bungkusan) “Bapakku, adikku mati pak, bapak nggak pulang-pulang”
Bapak              : “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Hidup dan mati itu sudah ditentukan oleh Alloh, manusia tinggal melaksanakan .
Ibu                   : “tunggu dulu ! itu daging darimana ? di musim paceklik seperti ini, sulit kiranya menemukan orang yang mau membantu. Jawab pak !”
Bapak              : (menjawab ragu) “em, em dari, dari. Daging tikus”
Ibu                   : “buang ! buang daging itu. Walau kita orang miskin, tapi iman kita jangan sampai lepas.”.
Anak Prm        : (pergi membuang daging, menemukan sebungkus nasi) “Alhamdulillah, mak, pak ada makanan”.
Ibu Bapak        : (serempak ) “Alhamdulillahirobbil’alamin”
Bapak              : “Ayo kita makan bersama” (memimpin do’a akan makan)


ADEGAN III
Penjaga gudang kaget dan hatinya kebat-kebit, Soalnya pajak yang berupa bahan makanan semakin hari semakin berkuran. Suatu malam ia mengintip gudang, dan ternyata yang mencuri bahan makanan adalah Raden Sahid putra Adipati junjungannya sendiri. Akhirnya, Raden Sahid dilaporkan ke ayahnya Adipati Wilatika.
(Raden Sahid ditangkap, dibawa kehadapan ayahnya)

Adipati Wilatika:“sungguh memalukan sekali perbuatanmu itu ! Kurang apakah aku ini, benarkah aku tak menjamin kehidupanmu di istana ini ? Apakah aku pernah melarangmu makan sekenyang-kenyangnya di istana ini? Atau aku tidak pernah memberimu pakaian? Mengapa kau lakukan perbuatan tercela itu?
Raden Sahid      : (diam, merunduk, menetes air mata)
Ibu Wilatika       : “Aku tak habis pikir, anakku sampai melakukan perbuatan yang keji ini !”
Adipati Wilatika:”Siapapun yang telah berbuat salah, dia harus dihukum. Penasehat, hukuman apa yang pantas untuk anakku ?”.
Penasehat         :”Di dalam islam hukuman untuk pencuri adalah potong tangan”.
Ibu Wilatika       : (terkejut) “Potong tangan, (menangis) Kanda, sulit kiranya saya menerima putra kita dihukum potong tangan ! Atas nama ibu yang telah melahirkan Sahid, aku minta jangan dihukum potong tangan.”.
Penasehat         : “keputusannya ada di tangan Adipati”.
Adipati Wilatika:”Keputusannya, Sahid dihukum cambuk 200 kali. Dan dipenjara di dalam kamar”.
Raden Sahid      : (menjulurkan tangannya)
Penasehat         :(mengambil rotan dan mencabuknya)


ADEGAN IV
Setelah Raden Sahid menjalani hukuman, beliau tetap pada pendiriannya yaitu membantu faqir miski. Suatu ketika beliau mengenakan topeng khusus dan baju warna hitam, kemudian merampok harta orang kaya yang pelit (bakhil) dan para pejabat kadipaten yang korupsi. Hasil rampokannya dibagi-bagikan kepada faqir miskin dan orang yang sedang menderita. Namun, ada orang jahat yang memanfaatkan penyamaran Raden Sahid.

Perampok1      : “Jangan bergerak ! atau aku bacok kau ! dimana kau simpan emas ? 
Ibu tua             : “em, em, aku tidak punya emas !”
Perampok2      : “Bohong kau! Cepat emasmu dimana?
Ibu tua             :(memberi isyarat dengan kepala) “di kamar”.
Pak tua            : (teriak) “Tolong, tolong, tolong kami ! kami dirampok”.
(melihat ada Raden Sahid perampok pergi)
Raden Sahid    : (lari, melompat mengejar perampok, namun tidak tertangkap)
Pak tua            : “tolong, tolong, tolong. Kami dirampok. Tolong kami dirampok !”
Rakyat             : (memukuli kentongan dan mendatangi pak tua)
Rakyat1           : “mau kemana kau ! tangkap dia !”
(Semua rakyat mengejar, Raden sahid akhirnya tertangkap dan dibawa ke kepala desa)
Rakyat2           : “bunuh saja perampoknya! Bunuh, bunuh”. (semua rakyat bilang bunuh)


ADEGAN V
Niat baik tidak selamanya berbuah baik. Itulah yang dialami Raden Sahid. Beliau hampir dihakimi rakyat akan dibunuh. Namun, Alloh akan selalu melindungi hambanya yang berbuat kebaikan.

Rakyat3           :”hai rakyat! Mending kita bunug, setuju!”
Rakyat             : “setuju, setuju, setuu. Bunuh, bunuh, bunuh”
Rakyat4           :”Diam! Kita jangan main hakim sendiri. Kita serahkan saja kepada kepala desa, pimpinan kita! Setuju ?”
Rakyat             :”setuju.,,”
Kepala Desa    : (mengangkat dua tangan mendiamkan rakyat)“Ada apa ini ribut-ribut?”
Rakyat5           :”Ada perampok pak! Kami minta hukum saja perampok ini, setuju !”
Rakyat             :”setuju,,,”
Kepala Desa    :”Diam, diam. Untuk masalah hukuman itu gampang. Yang penting kita harus tahu, siapakah perampok ini sebenarnya!” (membuka topeng Sahid)
(kepala desa dan semua rakyat tercengan meliha yang bertopeng adalah Raden Sahid)
Kepala Desa    : “sudah, untuk masalah ini biar saya yang menyelesaikan dangan Adipati junjungan kita. Sekarang, pulanglah kalian ke rumah masing-masing!”.


ADEGAN VI
Raden Sahid secara diam-diam dibawa oleh kepala desa ke istana kadipaten Tuban untuk dihadapkan kepada orang tuanya sendiri. Melihat hal itu, Adipati Wilatika naik pitam mengetahui anaknya berbuat keji lagi. Akhirnya,  Raden Sahid diusir dari wilayah Kadipaten Tuban.

Kepala desa    :(memberi salam hormat) “Tuanku Adipati, saya mendapat laporan dari rakyat kami bahwa Raden Sahid telah merampok. Karena ini putra engkau, engkaulah yang berhak memberi keputusan!”.
Adipati Wilatika: “Sahid anakku! Apakah di dalam agama islam diajarkan mencuri, merampok, berbuat keji? Aku sudah tidak tahu lagi bagaimana cara aku mendidikmu?”.
Ibu Wilatika    : “Aku tidak sudi punya anak pencuri, perampok. Aku minta, keluar kau dari istana ini! Pergi kau jauh-jauh!. Dan jangan kembali sebelum kau dapat mengguncangkan kadipaten ini dengan bacaan ayat-ayat suci alqur’an!”.
Raden Sahid    : “Baiklah kalau itu permintaan ayahanda dan bunda, aku akan pergi. Maafkan kesalahan Sahid! Aku akan pergi mencari guru sejati!”
Adik Sahid       : “Ka, kak sahid. Janganlah bersedih. Dewi yakin kakak berada dalam kebenaran. Dan kakak juga pernah bilang, Alloh pasti bersama orang-orang yang sabar, innal loha ma’ashobirin.”.
Raden Sahid    :(meminta salaman kepada keluarga)
Adik Sahid       : “Kak, tunggu saja. Saya akan menyusul kaka.”.

Raden sahid berjalan menyusuri semak-semak belukar, naik turun gunung ia lakukan siang dan malam untuk mencari “Guru Sejati”. Ia mengetahui bahwa hanya Guru sejatilah yang akan membimbing jasmani dan rohani menuju keselamatan di dunia dan di akhirat.



EPISODE
PENDIDIKAN JIWA

ADEGAN I
Hari berganti bulan, bulanpun berganti tahun, akhirnya ia menetap di hutan Jatiwangi. Dikeheningan malam Raden Syahid bermuhasabah amal yang telah dilakukan serta memanjatkan doa ke-Hadirat yang Kuasa. Maka terdengarlah bisikan di dalam nur salah satu min jami’il aulia. Raden Sahid terngiang-ngiang di dalam hati sanubarinya, yang akhirnya dapat bertemu dengan salah satu wali Alloh.

R. Syahid         : Assalamua’aikum warohmatullohi wabarokatuh
S. Bonang        : Wa’alaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh
R. Syahid         : Maaf kanjeng, apa boleh saya bertanya ?
S. Bonang        : Oh..... boleh kisanat. Ada apa ?
R. Sahid           : Kanjeng belum begitu tua, mengapa sudah memakai tongkat.
S. Bonang        : Yah... he hemm. Sekedar untuk penunjuk jalan, lebih-lebih kalau hari sudah mulai gelap, he.. he...
R. Syahid         : Boleh saya melihat tangkainya ?
S. Bonang        : Ada apa... ada apa dengan tangkai tongkat saya ? Bukankah kisanat sudah melihat dengan jelas !
R. Syahid         : Saya ingin melihat tongkat yang kanjeng genggam itu, apa terbuat dari emas ?
S. Bonang        : Eh.. emm mm .... nanti setelah melihat, kisanat ingin memilikinya.
R. Syahid         : Tidak, saya cuma ingin melihat.
S. Bonang        : Jadi, kisanat sedang mencari tongkat bertangkai emas ?
R. Syahid         : Ia kanjeng.
S. Bonang        : Oh ho...... Sebaiknya tidak usah, nanti timbul keinginan untuk memiliki yang bukan miliknya sendiri.
                        : Astaghfirullohal’adim   he...eh...he (menangis)
R. Syahid         : Maaf kanjeng ini tongkatnya !
S. Bonang        : Saya bukan menangisi tongkat itu, tapi coba lihat ini. Saya telah mencabut nyawa rumput ini. Saya jadi pembunuh. Eh he, he,....., betapa besar dosa saya kisanat Eh he, he,....., lailahaillalloh muhammadurrosululloh.
                        Kalau kalian ingin benda ?
R. Syahid         : Benda apa ?
S. Bonang        : itu.......... (sambil menjulurkan tongkat ke buah kolang-kaling)
                        Benda itu lebih berharga dari tongkat ini, dengan emas-emas itu kisanat bisa berbuat apa saja, apa yang kisanat inginkan sudah di depan mata. Dapatkanlah selagi Allah memberi kesempatan. Ambilah dan gunakanlah dengan sebaik-baiknya !


ADEGAN II
Sungguh sangat mengagumkan, tongkat sakti yang bertangkal emas dapat membuat kolang-kaling menjadi emas. Namun, Raden Syahid tidak tergiur akan kemegahan dunia, karena kehidupan dunia hanya sementara-dan kehidupan akhiratlah kehidupan yang abadi. Beliau terus mencari menuju Sang Sunan yang mempunyai tongkat itu, dan berkehendak untuk menjadi muridnya serta menginginkan untuk mendapat wejangan-wejangan yang bermanfaat di dunia dan di akhirat.

R. Syahid         : Maaf Kanjeng
S. Bonang        : Ada apa kisanat ? Mana kolang-kalingnya ?
R. Sahid           : Bukan, bukan itu yang saya inginkan kanjeng.
S. Bonang        : Kalau begitu, kisanat menginginkan tongkat bertangkai ini ?
R. Sahid           : Saya ingin diwejang ilmu yang kanjeng miliki.
S. Bonang        : Misalkan air laut dijadikan tinta dan daun-daun diseluruh jagat ini dijadikan kertasnya, masih belum cukup untuk menuliskan ilmu Allah itu kisanat.
R. Syahid         : Tidak sebanyak itu yang mau saya tuntut. Saya cuma perlu satu titik, titik ba’ itu kanjeng.
S. Bonang        : Baiklah kisanat.         Tinggal di sini sampai saya kembali. (meletakan tongkatnya).
R. Syahid         : Nestoaken dawuh kanjeng romo

ADEGAN III
             Allah menidurkan hamba, sebagaimana Allah telah menidurkan Ashabulkahfi. Berbulan-bulan Raden Syahid duduk di tepian sungai, menunggu tongkat bertangkai emas milik Sunan Bonang -sebagai ujian kepatuhan seorang murid kepada gurunya. Di depan beliau berlalu-lalang masyarakat yang memanfaatkan transportasi perahu, hingga orang-orang menjulukinya sebagai penjaga kali.

Rakyat-1          : Loh, kae agi ngopo ?
Rakyat-2          : Lah wong patung ko.
Rakyat-3          : Nek patung yo ra iso bergerak.
Rakyat-4          : Opo iyo, Cuba gateke sing bener, ono ambekan opo ora ?
Rakyat-5          : loo, iyo iku wong wong wis sue banget
Rakyat-6          : Wong iku sing jaga kali yo mas ?
Rakyat-7          : yo bener sing jaga kali
ADEGAN IV
            Atas pertolongan Allah, Raden Syahid dapat melalui ujian. Sunan Bonang kembali menemui muridnya di tepian sungai. Segala sesuatu jika dilaksanakan dengan penuh rasa ikhlas serta hanya mengharap rido Allah Swt. insa Allah dapat meningkatkan derajat disisi-Nya.
S. Bonang        : Assalamu’alaikum Wr.Wb                                        (komat)


ADEGAN V
Jalan menuju pendekatan kepada Allah Swt. ialah jumenenge iman ingsun, qolb mangli ing lenglengan telenge jejantung sing dadi lajere urip tempat pasebanane poro makhluk jin, setan lan siluman. Setan yang akan membawa kita kepada keburukan- maka harus dipupus habis. Hati kita mesti bersih, bersih seperti baitulloh.

S. Bonang        : Jiwamu belum bersih, harus seperti apa yang dikatakan “liring sepuh sepi howo hingkang sifat wisesowus” masih harus ditempah lagi. Dikubur hidup-hidup.
R. Syahid          : Sendiko dawuh kanjeng sunan. Kulo pasrah


ADEGAN VI
Raden Syahid dikubur hidup-hidup-untuk menghilangkan nafsu yang membawa kita keperbuatan dosa.

            S. Bonang        : Jumeneng nyawa ningsung nafsul mutmainnah ma’rifatulloh.
Assalamu’alaikum wr.wb.
R. Syahid          : Wa’alaikum wr.wb.
Bismillahirrohmanirrohim. Allohulailaha illa hua. Ala bizikrillahi tatmainnal qulub. Alloh, Allohu, Hu Allaoh.


ADEGAN VII
Saat bahagia bagi Raden Syahid, yang selama ini dikenal orang sebagai penjaga kali, ada juga yang menyebutnya kali jaga. Beliau dilantik menjadi mubaligh serta menjadi bagian dari “Wali Songo” untuk menyebarkan agama Islam di tanah jawa.

S. Bonang        : Assalamu’alaikum wr.wb.
R. Syahid         : Wa’alaikum wr.wb.
S. Bonang        : Mulai hari ini, kami bisa mempercayakan engkau sebagai mubaligh, sebagai penyebar agama Islam di seluruh jagat. Untuk melengkapi ilmumu kisanat, pelajarilah semua ini. Bersihkan tubuhmu sambil berdoa dan bacalah al-Qur’an 7x khatam.
R. Syahid         : Alhamdulillahirobbil’alamin




EPISODE
DAKWAH ISLAM

Suatu ketika Rakyat setempat mengalami bencana kekeringan. Rakyat pun melakukan berbagai cara untuk menurunkan hujan, namun hujan belum juga turun. Maka, datanglah Sunan Kalijaga.
Rakyat-1          : Hai ruh dari segala jenis, diseluruh jagat jagat raya.
Rakyat-2          : Hu ha-ha, hu haha, turunkan hujan- turunkan hujan.
Rakyat-3          : upaan sirna cahya sehut cahut, oooh hujan turunlan turuuun.
Rakyat-4          : Oh penguasa jagat raya, kupersembahkan gadis ini sebagai penarik hujan oh hujan.
S. Kalijaga       : Untuk apa penyiksaan ini dilakukan.
Ketua Rakyat   : Ini bukan penyiksaan, upacara ini didoakan untuk minta turun hujan.
S. Kalijaga       : Apa tidak ada cara lain- untuk menurunkan hujan.
Ketua Rakyat   : Cara ini yang biasa dilakukan- sudah tiga kali- namun hujan belum turun juga. Apa kisanat bisa
S. Kalijaga       : Kalau diijinkan Allah. Tapi hentikan penyiksaan ini!
Rakyat-5          : Boleh tapi tanggung akibatnya. Dia mau menyaingi kita dalam hal minta hujan.
S. Kalijaga       : A’udzubillahiminassaitonirrojim Bismillahirrohmanirrohim.
Rakyat-6          : Mana, mana, tidak terbuktikan

Ketua Rkyt       : Terimakasih kisanat, terimakasih.

                        : ini sesajian serta pedupa, buang semuanya tak ada gunanya . ternyata tuhan tidak perlu sesaji, tumbal
Atas izin Alloh Hujan turun dengan membawa berkah. Hanya Allohlah yang berkuasa di atas segala-galanya. Alloh selalu bersama orang-orang yang sabar. Sunan Kalijaga telah menjadi Kekasih Alloh sehingga lewat perjuangannya Islam dapat tersebar luas di pulau Jawa yang tercinta ini. Allohuma Amin.

Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di www.roomantik.com

0 komentar: